Cerita Tengah Bulan

9:17:00 PM


Nampaknya bulan ini, waktu begitu cepat berlalu. Padahal seperti baru kemarin aku mendapatkan gaji keduaku. Ya, Namanya juga orang baru bekerja tentu tidak seberapa dengan apa yang aku kerjakan. Pun perusahaan Tidak mengikuti aturan yang berlaku. Aku anggap ini sebagai seorang pembelajar yang tak mementingkan uang dulu yang terpenting aku sudah memiliki pekerjaan dan tak dianggap seorang pengangguran. Atau diberikan lebel yang lebih menyakitkan lagi.

Seperti pada gaji pertamaku, Tepat dipertengahan bulan gaji pun sudah ludes entah ke mana. Seperti biasanya lagi, kebutuhan hari hariku meminta dulu pada warung depan tempat kosku. Aku disini tidak sendirian. Ada dua teman saya yang sama sama baru bekerja di Pt. Nusantara Jayah Surabaya ini. Namanya Adi dan  Nurwito.

Adi ini temen sejak masa Sma. Dia tinggi besar, Ganteng, Gagah. Perkasa. Hingga banyak sekali cewek cewek yang naksir padanya kala di Sma itu. Sayang dia suka Ngupilan dan sangat Jorok sekali. Oleh karena itulah dia sering diputuskan pacarnya. Selain itu dia ini dulu juga murid yang paling pintar sekelas. Pintar bohongi teman temannya maksutnya hehehehe

Sedangkan Nurwito ini. Teman yang baru. Tepatnya baru menjadi teman sejak aku di terima di perusahaan ini. Dia agak gemuk, tapi tidak gendut. Kalau tidur yaaa ampunnn suka ngorok. Kalau pun mengeluarkan zat besi kimia dari knalpotnya. Ya Tuhann,, Baunya ngak hilang hilang. Bikin orang sakit langsung sembuh hahahaha.

Kami bertiga ini memilik hobi yang sama yaitu suka  jalan jalan malam. Oleh sebab itulah sepertinya kita cocok untuk Menjadi teman seperjuangan. Tinggal di kota orang ini. Apa ! Tentang aku. Tadi belum kenalan ya. ? Ya udah aku jelaskan kalau begitu. Jangan kira aku yang menulis sehingga aku baik ya. Haha

Namaku Mardjoeno, Biasa dipanggil Mas Djoe,  Ganteng, Tinggi, Tidak suka ngupil, kadang kala juga ngentut tapi baunya wangi menurut hidung sendiri hahaha. Selain itu aku juga  mudah bergaul dengan orang baru. dll. Namanya juga aku yang nulis terserah aku dong wkwk.
                 
Seperti kesepakatan dan perjanjian tadi siang di tempat kami bekerja. Kami bertiga akan menelusuri sudut sudut jalan. Dan kami akan berhenti kalau ada tempat yang kami anggap enak buat menikmati udara malam. Sebetulnya aku antara mau dan tak mau, Mereka enak kalau pun uangnya habis mereka telvon keorang tuanya sedangkan saya,,,,!!!

"Gimana Mas Djoe, Kang Adi  jadi enggak ?". Tanya Nurwito mengagetkan lamunanku. "Annn nu,, dompetku kering Nur, Hanya tinggal sang  Pahlawan kemerdekaan  nihh". Jawabku meyakinkan sambil membuka isi dompet. "Sudahlah ngak usah di pikirin biarkan saja yang membawa golok itu menjadi pelindung bagi dompetmu itu hahaha", "Masukan lagi sana". Balas Nurwito, Sambil cengengesan.

                                                               ********
Dengan langkah kaki yang tak tau arah dan tujuan, Yang penting yakin saja. Lebih dari satu setengah jaman kami berjalan kaki. Tepat di pertigaan jalan Jendral Sudirman. Aku lihat ada sebuah warung yang sederhana dengan atap dari welet dan lantainya beralaskan dari kayu. Wah,, kelihatannya asik kalau kita mampir disini Mas Djoe, Ucap Nurwito. 

"Gimana Kang Adi,  Menurutmu ?". "Saya ngikut saja, Kayaknya juga tempatnya nyaman ini'. Ya udah kalau gitu kita masuk saja". Jawabku. Dengan santai kami bertiga pelan pelan masuk sambil lihat tempat duduk yang nyaman. Akhirnya kami duduklah. Di tempat paling pojok sebelah kiri warung ini. Sementara tatapan dari pengunjung lain terus menyoroti kami. Kami acuh aja, Mungkin pakaian atau gaya kami yang membuat mereka terus memandang ke arah kami. Entahlah.

Beberapa menit kemudian tiga cangkir kopi sudah dihadapan kami. Sementara obralan kami terus berlanjut. Membicarakan segala masalah yang ada. Hingga nembicarakan pengalaman pengalaman lain. Tak luput juga cerita cerita humor. Namanya orang Tuban kalau sudah di tempat seperti ini sudah ngak memperdulikan orang lain. Seperti ibarat dunia milik kita bertiga. Yang lain sudah enggak ada disini. Terus saja kalau ada cerita yang membuat kami ketawa ya dikeraskan enggak di tahan. "Seperti ini hahaha kel kel kel". Kadang kala di tambah dengan kentutnya Nurwito. Yang bauknyanya sadubillah salammlekom. "Ini warung Nurrr,,!! Bukan rumahnya nyaimu", Celetus adi sambil tangannya menutup hidung. "Biarinn jawabnya santai".

Aku pernah, Kang Adi, Mas Djoe. Melihat seseorang kesurupan sebangsa makhluk halus gitu. Sebut saja yang kesurupan ini Baskiro. Orangnya sangat besar. Enggak kesurupan saja. Membuat orang lain wegah melihat badannya yang kayak petinju international. Lanjut Nurwito, Saya sendiri panik dan takut saat itu, Saya hanya melihat dari kejauhan. Ngak jadi mendekat. hehe Dengan alasan sudah menjadi jadi dan segala apa saja yang ada di depannya ia rusak semua.

Hingga salah satu dari sahabat Baskiro yang kesurupan ini. Ingin membantu menenangkan. Tak lama kemudian sahabatnya ini. Langsung mendekat dengan dua temannya lagi. Sembari kedua temannya sudah meraih badan Baskiro agar tak berujung pengerusakan fasilitas yang lain. Maksut hati ingin mengikat baskiro. Naas salah satu dari yang ingin mengikat ini. Kena pukulan jet dari Baskiro. "Pruuuakkkk,,,,!!!" Tepat mengenai mata sebelah kiri hingga meninggalkan benjolan berwarna hitam merah.

"Aughh,, Mata saya kena, Tak balas atau enggak ini," Sambil meraba matanya. Namun temannya yang lain berkata. "Dasar kamu ini, "Hawong Ini kesurupan". "Masak orang kesurupan mau kamu balas juga". Hahaha, mengejek. "Ya udah kalau gitu", "Saya laporin polisi saja". Jawabnya kesal. Terang cerita Nurwito sambil meragakan kejadian yang ia lihat dengan tangannya seolah olah mau memukul.

Aku dan Adi menikmati cerita yang disampaikan Nurwito, Walau pun sebenarnya ngak mengerti. Hanya menangkap di sesion, "Tak balas atau kulaporkan polisi ini, Dasar edan masak orang kesurupan mau dilaporin polisi, hahahaha, kel kel kel". Ketawanya Adi sambil mau mengambil kopi didepan tempat duduknya. 

Malam pun semakin larut aku kawatir, Seperti pada malam malam sebelumnya yang kelewat jam, Hingga kami terpaksa tidur di warungnya pak Armen yang tak jauh dari tepat kost kami. Sesekali mataku menatap jam dinding yang ada tepat di atas kasir, Waktu itu, Jam menunjukan pukul setengah sebelas malam. Sedangkan pengunjung lain yang semula rame satu persatu sudah meninggalkan Kedai Cove yang ada di pertigaan jalan Pangglima Sudirman Surabaya. Tak lama kemudian kami pun memutuskan untuk meninggalkan kedai ini.

Ya, Walau pun jauh dari keluarga dan terkadang uang tak selalu ada, Asal sahabat selalu ada dikala heningnya malam. Asal sahabat selalu setia walau pun ada dan tiada. Itu sudah menjadi anugrah serta berkah sendiri, Bagiku sudah dari lebih dari segala galanya. Tujuh tahun sudah kita bersama suka mau pun duka kita hadapi bersama sama. Gini kita telah berpisah jarang bertemu, Kalian sudah menjadi seorang ayah. Aku kangen masa cerita tengah bulan itu Adi-Nurwito.


  • Share:

You Might Also Like

10 komentar

  1. Jika sudah di rantauan sahabat jadi keluarga, dan hal itu saya pun merasakan. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pernah merantau juga ya mbakk nell.. Hehehe

      Delete
  2. Keberadaan seorang sahabat gak bisa dianggap remeh ya mas, bisa jadi penolong di saat kita dlm kesusahan, so jagalah selalu persahabatan alias friendship, hehee...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap betul, Tanpa sahabt ibarat makanan ngak ada lauknya, ngak enak.. Heehehe

      Delete
  3. Aku pernahhh hehehe. Pokoknya tengah bulan itu sesuatu :)

    ReplyDelete
  4. Arti sebuah persahabatan, kita tidak bisa hidup tanpa orang lain atau sahabat
    meski sekarang sudah terpisah banyak kenangan manis dengan sahabat

    ReplyDelete
    Replies
    1. meski kita jauh dan terpisah, anggaplah aku sahabat mayamu hehhehe

      Delete
  5. Wlwkkwwkw kirain kalian bakal Jadi ggs ternyataaa ga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Horeeee berhasilllll,,, ngak ketebak, hahaha

      Delete

Demi kenyamanan bersama berkomentarlah yang relavan. Terimakasih kunjungan Anda