Napak Tilas Di Makam Syekh Sayyid Abdullah Di Desa Mliwang Tuban

4:12:00 PM

Cungkup, Syekh Sayyid Abdullah (Mbah Mbuyut Sumber Banyu)
Dalam napak tilas kali ini, Blog Junaidi menjejakkan kaki di bukit desa Mliwang kecamatan kerek kabupaten Tuban. Di sini ada makam yang di yakini warga setempat sebagai tokoh penyiar agama islam dan sangat berpengaruh besar terhadap Islam di Kota Tuban kususnya di desa Mliwang.

Kendati tak tau percis tentang latar belakang (sejarah) tokoh ini secara pasti oleh masyarakat setempat, Hanya di Tuturkan lewat generasi kegenerasi. konon makam yang ada di bukit desa Mliwang ini adalah makam syekh sayyid Abdullah atau dikenal masyarakat setempat dengan sebutan Mbah Mbuyut Sumber Banyu. Di jelaskan beberapa sumber di Internet. Ia merupakan pendatang dari Hadratulmaut- Yaman-Arab yang mengemban misi mengislamkan nusantara pada masa Hindu Budha sebelum era Wali songo ( Sembilan Wali).

Cungkup, Abdullah, Sahabt/Abdi Sekh Abdulah (Mbah Mbuyut Sumber Banyu)
keberadaan makam ini tepatnya berada tepat di atas Bukit utara pemukiman warga desa Mliwang. Selain itu di bukit ini ada satu makam lagi yakni Makam yang di yakini seorang Abdi atau sahabat Sekh Sayyid Abdullah bernama Abdullah. Yang terletak di sisi barat tak jauh   dari    makam Sekh Sayyid Abdullah. Dengan cungkup yang lebih kecil. Makam Sekh Sayyid Abdullah sendiri makamnya di kelilingi pohon besar mungkin udah berdiri ratusan tahun yang lalu dan salah satu pohon tersebut berdiri percis di dalam cungkup yang dibiarkan tumbuh.


Ketika kami datang kesini pada waktu siang kurang lebih waktu ndhuhur, Makam ini nampak sepi peziarah. Dan seperti pada umumnya sebuah makam yang di yakini tokoh penting biasanya ada seorang juru kunci atau penjaga. Namun di makam ini tak ada satu pun yang kita temui selain warga yang akan melakukan aktifitas (pertanian). kami melihat bangunan yang ada di sini nampak baru dibenahi, Selain cungkup (Bangunan peneduh Makam) Syekh Sayyid Abdullah dan Abdullah (Abi/sahabat Syekh Sayyid Abdullah) di bukit ini terdapat Mushola  berada di utara makam Syekh Sayyid Abdullah, Yang terlihat belum sempurna dari dinding mushola dan juga di belakang mushola ada kamar mandi sangat kotor sekali.


Mushola
Meskipun nampak beberapa bangunan baru dibenahi. kami beranggapan bahwa Makam atau tempat ini jarang di jamah orang. Namun di beberapa titik ada bekas bekas sebuah acara dan di pertengahan antara mushola dan makam Sekh Sayyid Abdullah (Mbah Mbuyut Sumber Banyu) ada empat batu yang di gunakan untuk membakar sampah. Sebelum kemakam sendiri di beberapa tempat yang berbeda di Bukit Gunung Mliwang ini memang ada beberapa sumur yang hingga kini masih ada. Mungkin dari sumur sumur itulah masyarakat memanggil Sekh Sayyid Abdullah dengan sebutan Mbah Mbuyut Sumber Banyu.

Melalui obrolan bersama salah seorang warga di dalam warung desa mliwang. Dibenarkan makam Syekh Sayyid Abdullah ada seorang juru kunci atau penjaga tempat ini. Namun tak selalu ada ditempat makam. Ia juga menuturkan setiap hari rabu malam kamis di Makam Syekh Sayyid Abdullah. Biasanya warga yang mempunyai hajat melakukan slametan dengan membawa nasi. Lalu kami menanyakan lagi. Apakah semua warga melakukan tradisi itu pak ? Tidak hanya yang memiliki hajat, jawabnya.

Bisa dilihat atap rumah yang menghadap barat timur yang sejajar
Selain itu di desa Mliwang sendiri ada mitos yang berkembang hingga saat ini yang masih di yakini warga setempat. Mereka tak di perbolehkan membuat rumah menghadap ke utara. Hingga kini kepercayaan tersebut masih adanya. Tak satu pun ada rumah yang menghadap ke utara. Sebab jika mereka membuat rumah menghadap keutara akan mengarah pada makam Syekh Sayyid Abdullah. Di singgung soal kepercayaan dan keyakinan ini, Ia (penjaga warung) yang menuturkan kepada kami yang asli lahir di desa Mliwang sekitar umur 45 tahunan kurang lebihnya tak bisa menjawab dengan pasti. "udah dari mbah buyut buyut dulu mas seperti itu" Jawabnya tersenyum sambil mengaduk secangkir kopi.

Ini bukan tak akur sama tetangga, Namun begitulah desa mliwang :)
Mungkin sebuah rumah yang ada di desa desa pada umumnya, Mereka lebih memilih menghadap kejalan raya. Namun tidak dengan kebanyakan rumah yang ada di desa Mliwang ini walaupun sebenarnya lebih enak kalau menghadap jalan raya. Mereka tak akan berani mengarah ke makam Sayed Abdullah. Seperti foto Blog junaidi di atas salah satunya. Yang sebenarnya lebih baik kalau berhadap hadapan ke tetangga alias tidak menyingkur seperti kebanyakan sebuah rumah rumah yang ada di desa pada umumnya, Namun mereka (Desa Mliwang) lebih memilih menghadap ke timur ketimbang ke jalan raya yang menghadap keutara.


Hampir semua rumah yang ada di tepi sepanjang jalan raya di desa Mliwang tak satu pun yang menghadap ke utara. Meskipun begitu keterkaitan dengan tokoh yang diyakini masyarakat setempat sebagai penyiar agama Islam atau salah satu orang pertama yang pertama singgah di desa Mliwang, Syekh Sayyid Abdullah (Mbah Mbuyut Sumber banyu). Hingga kini cerita dan sejarahnya tak satu pun masyarakat yang mengetahui dengan pasti. Mereka hanya mengetahui cerita yang diwariskan secara turun termurun dari generasi kegenerasi yang diyakini hingga sekarang.

Begitulah Tubanku, Nusantaraku, Yang kaya akan keanekaragaman budaya. Sejarah dan keeksotisan panaroma alamnya yang meski kita rawat dan jaga. Mungkin tidak berlebihan rasanya Kota Tuban memiliki sebutan Kota "Bumi Wali". karena banyak peninggalan makam makam tokoh tokoh penyebar agama Islam masa silam. Selain yang kita kenal Sunan Bonang, Sekh Ibrohim Asmaraqandi dan sunan kali Jaga yang asli orang Tuban, Yang kini di makamkan di daerah kadilangu Demak, Dan para tokoh penyiar Islam lainnya. Masih banyak peninggalan jejak masa lampau di kota Tuban, salah satunya seperti Sekh Sayyid Abbdullah (Mbah Buyut Sumber Banyu ini.

  • Share:

You Might Also Like

26 komentar

  1. Seharusnya tempat seperti itu/tempat bersejarah dirawat. agar mendatangkan pariwisata, sehingga akan mampu mendongkrak perekonomian. Mitos yang unik, ya itulah setiap tempat mempunyai budaya masing-masing.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul gan, terutama mendongkrak perekonomian masyarakat setempat. di samping itu tempatnya juga keren. hehehe

      Delete
  2. Sayangnya tempat bersejarah tak ada yang merawatnya, coba klau dirawat dengan baik pasti akan terasa nyaman.Selain itu pendatang akan semakin banyak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kemungkinan besar ada kok mbak Nel yang merawat hanya saja kurang ada perhatian khusus. Pastinya mbak kalau tempat nyawan pengunjung akan betah, kemarin saja kami betah apalagi tempatnya nyawan dan terawat. Mungkin seharian kerasan hehehe

      Delete
    2. Wah, jadi sangat ingin ke sana saya, bagaimana kalau tempat itu dijadikan kopdar kira-kira diperbolehkan nggak ya?

      Delete
    3. Ya kita tanya dulu sama pihak terkait. Namun pada umumnya, pasti diperbolehkan mbakk. Ayoo kopdar mbak Nelisa, Pengen deh ketemu para (penulis/blogger) hebat. :)

      Delete
  3. Tuban terkenal dengan budaya yang sangat religi ya, ya tugas kita semua memelihara peninggalan bersejarah agar tetap terjaga dan generasi yang akan datang bisa tetap membanggakan tanah tercinta ini lewat kebudayaan yg pernah ada sejak lama

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yapp bunn,, Seharusnya memang harus begitu,

      Delete
  4. Wah.. jadi gak ada sama sekali rumah yg menghadap ke utara ya? Turun temurun dilaksanakan ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. kira kira begitulah buu, kebanyakan rumah disana.

      Delete
  5. Tuban tuh jauh dari tempatku. Tapi baca postingan ini jadi pingin ke sana nih. Walau masih banyak kekurangannya, mungkin dg postingan ini makin banyak yg peduli. Bisa jadi ke depan jadi pariwisata keren lho makan dan pernik lingkungannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya gan semoga begitu banyak yang peduli. oiya Monggo silahkan ke Tuban, Kalau bingung, kami ingsya allah siap bantu. Asal nganggur dan direncanakan, hehehe

      Delete
  6. wah sayang yah, kelihatan kurang terawat

    ReplyDelete
  7. Baca Cungkup saya malah inget temen saya mas Yanto Cungkup, seorang blogger yang cukup terkenal.. hehe..

    Informasinya cukup lengkap, hanya saja sekedar saran untuk gambar pendukung resolusinya kalau bisa agak di kecilkan, soalnya di kompi saya tidak bisa kebuka mungkin terlalu besar...

    ReplyDelete
    Replies
    1. cungkup ? hehehe. Terimakasih banyak kang sudah memberitahu terkait dengan gambar pendukung. Iya nanti saya tak berusaha memperbaiki. sekali lagi makasih sudah mau memberikan saran.

      Delete
    2. Sekarang loadingnya cukup lancar mas, sukses selalu yah... tingkatkan terus semangat ngeblognya, jangan seperti saya yang suka angin-anginan, hehehe...

      Delete
    3. saya juga masih angin anginan kang. ya semoga kang maman juga selalu sukses. semangat terus kang hehehee

      Delete
  8. Replies
    1. enggak capek maya, Naik tangganya mungkin sekitar 20 an meter. dekat kok.

      Delete
  9. Musholanya kayanya kurang terawat tuh!

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya gan, namun untuk dipakai sholat masih bisa.

      Delete
  10. Andai ada yang suka merawat
    Pasti banyak yang hadir melawat
    Karena keunikan penduduk setempat
    Dengan rumah sangat padat...

    ReplyDelete
    Replies
    1. kita sendirilah yang harus merumat
      Agar tempat yang unik bisa bermanfaat
      Bagi pengunjung yang lewat
      Segeralah mampir dulu sebelum berangkat,,,,,

      Hahahahaha

      Delete
  11. Biasanya tempat kayak gini diburu orang yang ngalap berkah mungkin belum tenar kali mas

    ReplyDelete

Demi kenyamanan bersama berkomentarlah yang relavan. Terimakasih kunjungan Anda