Tradisi kupatan Menjelang Bulan Puasa Di Tuban

12:58:00 AM

Sumber : (waetuo.wordpress.com)

Tak terasa kurang beberapa hari lagi kita semua yang umat muslim tentunya akan segera menjalankan ibadah wajib berupa puasa di bulan Suci Ramadhan. Padahal lebaran seperti baru kemarin dan sisa sisa lebaran pun terasa masih melekat masih meninggalkan bekas berupa sandal jepit maupun baju baju yang mulai kumuh bin kotor.

Sebelum melaksanakan ibadah puasa tersebut sebelumnya biasanya kita  menjumpai  dengan adanya acara tradisi membuat ketupat. Di Tuban kususnya atau lebih dikenal dalam bahasa keseharian kita yang sebagai orang jawa di sebut “Kupatan” .

 Namun tahukah kita apa yang terkandung makna dari pada kupatan ini ?

Tradisi kupatan ini sesungguhnya mengingatkan kita untuk saling meminta maaf kepada saudara saudara kita.  Seperti namanya dalam kata kupat yang memiliki kepanjangan dari bahasa Jawa “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan kesalahan kita. Baik kepada sesama maupun kepada Tuhan yang Maha Esa.

Acara kupatan semacam ini tak lain merupakan bentuk penyambutan datangnya Bulan Suci Ramadhan yang di nanti nanti dan di tunggu tunggu oleh semua umat muslim seluruh dunia. Dengan rasa kebahagian, penuh suka cita yang mendalam. Sehingga pada akhirnya melakukan tradisi kupatan sebagai bentuk rasya sukur terhadap sang pencipta. 

Dalam penyambutan datangnya bulan Ramadhan ini berbagai daerah tentu bermacam macam tata cara yang di lakukan sesuai dengan keyakinan dan pemahaman masing masing  daerah. Yang meliputi kelompok maupun per-individu. Tentu banyak yang beragam dan berbeda untuk melaksanakan tradisi maupun budayanya.

Apa saja yang di lakukan masyarakat Tuban umumnya dalam rangka menyambut bulan Ramadhan ini ?

(ilustrasi: suara.com)
Dewasa ini, Tuban sendiri banyak yang melakukan acara seperti ini (kupatan) dari pelosok desa hingga ke sudut sudut kota mereka banyak yang membuat ketupat kemudian di bawa ke masjid maupun mushola terdekat untuk di panjatkan do’a. Setelahnya di makan bersama sama yang dilakukan pada malam nisfu sa’ban atau 15 hari menjelang bulan ramadhan. Pada waktu acara kupatan ini biasanya dilakukan seusai sholat magrib. Nah. Di situlah letak kebersamaan atau tali silaturahmi berada. 

Seperti apa yang mereka bawa di dalam isi kupat tersebut yang sebelumnya berupa segenggam beras pilihan lalu di masukan kedalam kupat sesudahnya di masak hingga menjadi nasi  yang menggumpal yang siap di santap atau di makan bersama sama dengan orang orang yang berada di dalam masjid maupun mushola tersebut.

Tentu ini juga ada maksut tersendiri yang meluas dan mendalam setelah kata kupat dari bahasa jawa yang bearti (ngaku-lepat) atau mengakui kesalahan. Saya ulang kembali Kupat yang terdiri dari bahan berupa Lontar atau pun  Janur lalu dianyam setelahnya di isi dengan segenggam beras sesudah selesai tahapan itu. Kemudian di masukan kedalam wadah besar  untuk di kukus hingga matang bersatu bersama kupat kupat lainnya hingga sampai matang menjadi nasi yang mengumpal menjadi satu. 

Ini tak lain juga merupakan sebuah simbul  persamaan dan kebersamaan persatuan dan kesatuan. Dan yang seperti itu merupakan sebuah pesan moral bagi kita di maksutkan agar kita sama sama saling menjalin persatuan dan kesatuan sesama muslim kususnya. dan umumnya ini sama seperti kita yang memiliki seribu perbedaan satu sama yang lain namun tetap bersatu di dalam negara Indonesia.

Ini sama juga yang saya katakan di atas.  Bersama sama memakan ketupat di sebuah masjid maupun mushola secara bersama sama tanpa memperdulikan latar belakang tiap tiap individu dan menjadi ajang kebersamaan mempererat tali silaturahhim karena biasanya tak hanya kaum hawa saja atau pun kaum adam saja yang berada dalam masjid maupun mushola tersebut. Akan tetapi semuanya pada datang semua sangat rame dan meriah ketika acara kupatan ini diadakan.

Untuk memakan atau menyantap “kupat” sendiri cara makannya juga agak sedikit berbeda tidak langsung di makan atau di kelupas begitu saja sehingga menjadi awal mula daun lontar atau janur tanpa adanya bekas apapun. Namun untuk menikmati kupat ini dengan cara di iris miring dengan belati atau pisau terlebih dahulu. Di belah antara sudut dengan sudut hingga terbelah menjadi dua bagian yang mirip dengan segitiga.

Saya tak pernah menemuai orang makan kupat dengan cara lain setiap orang pasti sama di iris dengan pisau terlebih dahulu baru di ambil nasi yang di dalam kupat tadi. Cumak saya pernah memakan kupat tanpa saya iris sehingga tidak menjadi dua bagian dan janurnya atau lontar tadi kembali seperti semula tanpa adanya bekas penganiayaan  alias masih utuh berupa dua janur  yang panjang.  ketika tragedi itu saya masih kecil dan orang tua saya yang melihat tak memperbolehkan melakukan seperti itu.

Kenapa tidak di perbolehkan seperti saya tadi ? 

Yang kiri kupat dan yang kanan Lepet (Sumber : warungembakkar.wordpress.com)
Antara boleh dan tidak itu sebenarnya juga tak ada anjuran yang berlaku atau pun mewajibkan harus memotong sepengetahuan saya. Tidak ada yang pernah mengatakan hal yang sedemikian itu namun ada semacam makna yang terkandung di dalamnya seperti potongan kupat yang miring terbelah menjadi dua bagian tadi. Atau dalam artian si kupat ini  memiliki  semacam simbol “perempuan”. 

Di Tuban sendiri tidak hanya cukup dengan membuat kupat saja ada menu pelengkap atau kuliner tambahan lainnya seperti Lepet atau Alu-alu dan ada juga yang menyajikan makanan berupa kupat ini bersama kuah sayur sebagai pelengkap menu hidangan. Tak ketinggalan juga lauk pauknya berupa sambal yang terbuat dari kelapa kalau bahasa kami menamakan “sambal kelapa” dan dadar telur beserta tahu tempe dan lauk pauk laninya. Ini kususnya di sekitaran Tuban seperti ini.

Lepet atau alu-alu ini biasanya disajikan atau di sandingkan bersama kupat yang sudah di belah tadi menjadi satu dengan menu pelengkap lainnya.  Bentuk Lepet sendiri lonjong alias panjang ini juga merupakan simbol laki laki karenanya cara penyajiannya di satukan bersama kupat yang bersimbol perempuan ini juga memiliki makna artinya suami istri juga harus selalu hidup rukun bersatu padu dan bersanding di dalam rumah tangganya. 

Pada umumnya masyarakat Tuban dan sekitarnya untuk membuat kupat ini berasal dari pohon bogor yang diambil daunnya yang memilki nama Lontar berwarna hijau karena Tuban sendiri paling banyak adalah pohon Bogor. Akan tetapi banyak juga yang mengambil dari pohon kelapa yang di sebut daun Janur berwarna kuning muda untuk membuat kupat maupun lepet.

Daun Janur sendiri pada umumnya selain di buat untuk membuat kupat juga di buat atau di pasang pada acara acara pernikahan atau acara lainnya yang penuh dengan kebahagian suka cita. Ini juga merupkan simbol  atau ada maksut tersendiri.

Berbagai sumber menyatakan Kata Janur sendiri dari dua kata “Jaa Nur” yang berasal dari  bahasa arab yang artinya telah datang cahaya.  Yang kata Kupat tadi awal mulanya juga dari bahasa arab bentuk kafi yaitu Kuffat yang artinya sudah cukup harapan. 

Waktu pelaksanaan tradisi kupatan !

sumber :niyasyah.com
Masyarakat Tuban kususnya untuk tradisi kupatan ini di lakukan dua kali sebelum atau  menjelang puasa dan 8 hari sesudah hari raya Idhul fitri yang dinamakan Riyoyo kupat. Akan tetapi setiap melakukan tradisi kupatan ini biasanya tak selalu sama penetapan waktu untuk melaksanakan tradisi kupatan ini.

Seperti yang ada di kecamatan merakurak kususnya desa Tlogowaru kabupaten Tuban ada yang malam nisfu sa’ban ada juga yang malamnya baru melaksanakan kupatan ini. Dan rata rata sejumlah desa desa yang ada di Tuban pada  (21/05/16) umumnya  juga tak bersama. Banyak yang saya tanyai bilang Tidak barengan atau tak serentak. 

Tradisi kupatan ini yang konon katanya di bawa oleh para walisonga. Mungkin ini merupakan salah satu strategi walisongo untuk memasukan Islam masyarakat di Tanah Jawa secara halus tanpa adanya pertumpahan darah. Dan masyarakat Jawa pada umumnya mempercayai tradisi kupatan ini berasal dari Sunan kali Jaga pada masa dulu.
 
Dan tradisi kupatan ini umumnya  hanya dilakukan sebelum dan sesudah puasa maka secara halus para penyebar agama islam atau para walisongo tersebut mengingatkan. Telah datang bulan puasa dan Jika bersungguh sungguh menjalankan ibadah puasa dengan sebaik baiknya.  Maka sudah cukup harapan amal ibadah maupun dosa dosa kita di terima dan dosa kita di ampuni oleh  Allah swt yang telah menumpuk selama sebelas bulan.  

Nahh,,  Itulah salah satu tradisi di Tuban yang masih dilakukan hingga sekarang. Tradisi kupatan bukan hanya sebuah formalitas saja tetapi menjadi kebersamaan dan persatuan umat. Adapun ada kesalahan maupun pendapat mengenai “kupatan” ini saya juga  kupat alias (Ngaku Lepat) dan kami mewakili  jajaran crew Mbah google minta maaf sebesar besarnya kepada segenap pembaca yang budiman ini  dan selamat menyiapkan diri masing masing untuk bersiap siap menjalankan ibadah puasa di awal minggu pertama di bulan Juni nanti. Ingat kata bang Haji  “Puasa jangan sekedar puasa”.

  • Share:

You Might Also Like

1 komentar

  1. Wah joss kang :-D detail, salute iso nulia sepanjang ini.

    ReplyDelete

Demi kenyamanan bersama berkomentarlah yang relavan. Terimakasih kunjungan Anda